Sabtu, 26 November 2011

ALAMAT PALSU

Aku membanting diri di kursi tamu. Sudah cukup hari ini aku tak melihat batang hidungnya seharian. Kemana sih dia? Sms, telepon tak ada yang menjawab. Aku mulai kasak-kusuk sendiri ketika Nura dan Mili memasuki ruang tamu.

Haaah.. aku tak mempedulikan kedatangan mereka ke rumahku. Yang ada di pikiranku sekarang, ada apa dengan perubahan Egik. Kekasihku yang baru menjalin hubungan  ± 2 tahun  denganku. Aku masih sibuk mengutak-atik HP, sementara Mili dengan santainya menyeruput sirup buatanku di meja.

“Hee, nggak sopan banget sih? Tau diri dikit dong ini lagi di rumah orang.” Ucapku manyun.

“Dimana-mana tamu itu adalah raja. Nah kamu tamunya dateng malah dicuekin begitu.” Mili membela diri sambil menyetel TV. Tak lupa membongkar-bongkar majalah di keranjang buku.

“Au ah, aku lagi sebel nih.” Kilahku.

“Pasti Egik lagi ya? Kenapa lagi sih dia?” tanya Nura yang selalu ingin tahu.

“Dia nyebelin banget deh, sebenarnya maunya dia itu apa sih? Dihubungin gak pernah aktif. Disms gak dibales. Udah gitu kalau ketemu di kampus. Selalu alasannya banyak tugas kuliah. Lama-lama BT juga aku jadi pacarnya.”


“Waah.. jangan-jangan dia punya cewek baru tuh.”

“Nura... jangan nakutin gitu dong?”

“Lha iya, apalagi namanya kalau bukan ada yang lain?”

“Jangan su’uzon dulu..” kata Mili menengahi perbincangan kami. Ia masih terfokus pada majalah yang dibacanya. “Mungkin aja dia lagi menyiapkan kejutan buat kamu.” Lanjutnya membuat hatiku sedikit tenang.

“Kejutan apa?” tanyaku ketus.

“Ya mana aku tahu, aku kan bukan pacarmu.” sanggah Mili sambil menyeruput kembali segelas sirupku sampai habis.

“Kamu haus banget ya?”

“Nis, atau mungkin itu hanya taktiknya dia aja untuk membuat kamu marah.” Kata Nura memukul bahuku. Ia mengerlingkan matanya, “Kamu lupa ya? Senin besok kamukan ulang tahun cantik?”

Aku menepuk jidatku, sedetik kemudian aku mesam-mesem tak karuan. Benar juga apa kata Nura. Hah, dasar Anis bodoh. Masa segitu saja tak terbaca gelagatnya. Sudah hampir seminggu ini aku marah-marah tak jelas. Lantaran Egik tak pernah lagi menafkahiku dengan segudang perhatiannya. Rasa-rasanya aku ingin bulan Oktober cepat berakhir. Tapi, aku teringat tanggal 10 Oktober ’11 besok adalah ulang tahunku.

Bisa saja kan ini hanya aktingnya saja untuk membuat kejutan di hari bahagiaku besok? Ah, dasar Egik, gelagatmu mudah sekali kubaca. Baik kalau itu maumu. Aku akan mengimbangi permainan ini sampai ulang tahunku datang.

≠≠≠

Senin, 10 Oktober ‘11

Hpku berdering lembut. Aku segera membuka pesan yang tertempel di layarnya.

“Happy birthday Anis, semoga tambah cute nd GBU.” Aku kecewa, ternyata dari Mili.

Sms berikutnya.

“HBD Nis, Wish U aLL tHe BesT.” Dasar anak alay. Aku mendengus kesal, itu bukan dari Egik. Tapi dari Nura.

Oh Tuhan aku tak bisa terpejam, mengharapkan telepon atau sms dari Egik. Sampai pagi hingga kelopak mataku menghitam karena bergadang. Egik tak mengucapkan apapun. Serentet pesan-pesan yang masuk ternyata tidak ada satu pun dari Egik.

Aku berusaha meyakinkan diri mungkin kejutan itu akan dilakukannya di kampus. Di depan umum, wah dia memang romantis. Aku berharap-harap dengan dandanan super cantik pagi ini. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Dia tetap acuh dan sok sibuk.

“Gik, kita harus bicara.” Cegatku saat ia hendak memasuki kelas. Demi Tuhan aku sudah tak tahan lagi. Sebenarnya mau dia apa sih? Kutunggu seharian, ia sama sekali tak melakukan apa-apa. Sampai hari senin terlewati, ia tak juga mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Padahal Oktober tahun lalu, ia begitu romantis. Sampai bela-bela bikin tenda di depan rumahku hanya untuk menyalakan kembang api bersamaku. Kemana Egik yang dulu. Oh Oktober, ada apa dengan Oktober tahun ini? Ini benar-benar Oktober paling kelabu di hidupku.

“Kenapa lagi sih Nis? Aku lagi sibuk.”

“Sibuk terus, sibuk terus. Sadar nggak sih? Kamu sudah melupakan aku!” bentakku keras. Tak peduli ada berapa banyak pasang mata yang menatapku.

Egik menarik tanganku ke bawah tangga.

“Udah deh, jangan kayak anak kecil. Aku beneran lagi sibuk sayang?”

“Sesibuk itukah sampai lupa hari ulang tahunku?” tanyaku bersama air mata yang perlahan berderai.

Ia menyekanya dengan lembut. “Maafkan aku, aku benar-benar sibuk sayang..” ia mengecup keningku. Aku masih sesenggukan.

 Pelan aku berucap, “Apakah sudah ada perempuan lain?” langkahnya terhenti mendengar penuturanku.

“Jangan berpikiran yang macam-macam, aku tetap menyayangimu apapun yang terjadi.” Ia kembali membelai rambutku, kemudian pergi lagi.

Rasanya aku ingin meninjunya dari belakang. Apa ia tak merasa aku sangat merindunya belakangan ini? Nura menghampiriku yang masih tergugu sendiri di bawah tangga. Ia datang membawa dompet berwarna hitam. Coraknya sangat aku kenali.

“Kamu nggak apa-apa kan Nis? Sudahlah cowok kayak gitu gak pantes ditangisi. Nis, seperti yang aku duga. Maaf ya sebelumnya. Bukannya aku lancang. Tapi..” kata-katanya terpotong oleh keraguan.

“Itu, dompet Egikkan?” aku merebut dompet itu dari tangan Nura. “Dimana kamu mendapatkannya?”

Nura masih diam, sementara aku membongkar isi dompet Egik. Tepat di bagian foto, seorang cewek cute berfose begitu menggoda terpajang di dompet Egik. Aku mengeluarkan foto itu. Tangisku makin menjadi, terlebih ketika dibaliknya ada tulisan. Aku membacanya dengan suara tertahan.

“Meisha Alexia, lahir 10 Oktober ’91.”

Apa karena ini? Karena ini Egik melupakan ulang tahunku? Karena ada perempuan lain?

“Aku gak bisa menerima ini. Aku harus bicara dengan Egik.” Kataku pada Nura, namun Nura menahanku.

“Jangan, sebaiknya kita selidiki dulu siapa perempuan ini. Lihat disini ada alamatnya. Kita harus kesana, kita harus temukan bukti dulu baru menghakiminya.”

≠≠≠

Aku dan Nura sudah berdiri di depan rumah Meisha. Hanya berdua dengan Nura, Mili menolak untuk ikut. Gadis yang satu itu memang tak pernah mau ikut campur dengan urusan memata-matai orang seperti ini. Berbeda denganku dan Nura.

Aku memandangi rumah besar itu. Rumahnya berpagar besi, tinggi menjulang. Aku mngintip dari celah-celah pagar. Nampak sangat sepi dan tak terurus.

“Kayaknya gak berpenghuni deh Nis. Kita pulang aja yuk?”

“Nggak, kita sudah sampai sini susah-susah masa pulang begitu aja sih?”

“Ya udah, kalau gitu aku tunggu disini aja kamu yang masuk sendiri ya?” tawar Nura.

“Eh.. dateng kesini bareng, masuknya juga harus bareng dong?” protesku.

CIIIEEETTTT

Rupanya pagarnya tak terkunci. Halamannya benar-benar tak layak ditempati. Sangat kotor dan bau. Aku dan Nura sampai menjepit hidung karena tak tahan dengan bau amis yang menusuk. Setelah kami lumayan jauh dari pagar. Terdengar suara desing yang begitu kuat. Mataku menjelajah sumber suara. Pintu pagar itu, entah bagaimana tertutup dengan sendirinya. Aku dan Nura berlari hendak membuka pagar, sayang pagarnya terkunci.

“Tuhkan Nis, aku bilang juga apa? Seharusnya kita pulang aja dari tadi. Kamu sih nekat..” kata Nura hampir menangis. Aku berusaha menenangkannya. Walau sebenarnya aku tak kalah takutnya dengan Nura.

“Kita ke dalam aja yuk, barangkali kita bisa menemukan kuncinya.” Ajakku.

Aku memasuki rumah itu dengan langkah berat. Semakin lama semakin berat. Belum lagi gelap yang pekat mewarnai dinding-dinding yang berlumut. Langkahku makin tertatih kala kurasakan desir dingin yang meraba kulit.

“Nur... Nura.. kamu ngerasa juga gak, kayaknya ada yang gak beres disini.” Bisikku pada Nura. Tapi tak ada suara darinya. Hanya desah nafasku yang kental kudengar sendiri. “Nura, kamu dengar aku kan?” aku menoleh ke belakang. Gelap, Nura menghilang. Seketika bulu kudukku berdiri. Apalagi setelah kusadari apa yang semenjak tadi membuat langkahku makin berat. Entah mengapa pandanganku lekat tertuju pada makhluk yang berpakaian serba putih itu. Ia mendongak menampakkan mukanya yang rata. Tanpa mata, hidung, apalagi bibir. Aku menelan ludah tak percaya.

Aku ingin berlari, tapi ia menahan kakiku dengan memeluknya erat. Terasa sangat sentuhan kulitnya yang dingin menempel di kaki jenjangku. Ini benar-benar Oktober tersial yang pernah kualami. Oh Tuhan, apakah aku akan mati konyol disini?

Aku berusaha untuk memekik dengan keras. Tempat apakah ini? Aku memandang sekeliling. Bukan hanya satu, tapi banyak pasang mata menatapku dengan seringaian mengerikan. Dengan wajah-wajah yang tak kalah menyeramkan dengan yang ada di bawah kakiku. Aku hanya bisa menutup mata, sambil sesekali membiarkan kelonggaran hidungku bernafas.

Satu tarikan nafas membuatku mual. Baunya sungguh tak enak. Seperti bau darah yang basi. Hawa pun semakin dingin kurasakan. Dengan seluruh keberanian aku memicingkan mata. Membuka mata yang sedari tadi kututupi.

Oh Tuhan, itu putih-putih apa ya? Putih yang kotor, aku tak berani menoleh terlalu banyak. Aku ingin pingsan, tapi susah. Kenapa disaat seperti ini aku tidak bisa pingsan? Kurutuki diriku sendiri. Kapankah ini akan berakhir. Kumohon siapa pun tolong aku.

BRUK

Pandanganku gelap, aku tak melihat apa-apa lagi. Yang kuingat terakhir, wajah yang kukenal memelukku dengan erat.

“Nis.. Anis..”

Aku membuka mata, wajah Egik yang pertama kali kulihat. Aku tersenyum melihatnya. Tapi tak lama aku cemberut lagi. Kupalingkan wajahku, sungguh aku benar-benar kesal padanya. Ia malah senyam-senyum tak karuan. Membuatku makin manyun beberapa centi.

“Sayang... kamu sudah sadar?”

“Sayang.. Sayang.. palamu peang? Aku masih marah padamu. Alamat apa sih yang ada di dompetmu itu?”

“Itu alamat palsu sayang, hanya untuk mengecohmu.”

“Alamat palsu gimana? Bukankah itu alamat pacar barumu?”

“Bukan, itu alamat palsu yang sengaja dimasukkan pacarmu dalam foto itu untuk menyerahkanmu padaku.”

Kepalaku pusing, pandanganku kembali gelap. Aku belum sepenuhnya sadar. Ternyata pemuda itu bukan Egik. Dia mondar-mandir di hadapanku, tepatnya melayang di udara. Aku mengucek mataku beberapa kali. Akhirnya aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia makhluk yang paling kutakuti, pocong. Aku berusaha terpejam lagi, ternyata aku belum terbebas dari tempat aneh ini.

“Percuma juga kau menutup matamu. Pacarmu sudah membuatmu menjadi tumbalnya.”

“TUMBAL??” aku terkesiap,” Dimana Nura?”

“Apa kamu tidak sadar? Dia tidak pernah ikut masuk bersamamu.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan padaku?”

“Seperti tumbal-tumbal yang lain, kau akan terkurung disini selamanya.”

Aku berusaha mundur, tapi terlambat. Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi padaku selanjutnya.

 -END-

DITULIS OLEH : DINDA CINTA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar